PALESTINA tidak iDentik dg iSlam

April 29th, 2008 by opanx

PALESTINA tidak iDentik dg iSlam

Palestina selalu dianggap idem tito Islam. Salah pandang tentang konflik Arab-Israel akhirnya jamak terjadi. Ini, konflik agama yang melibatkan Islam vis a vis Yahudi, atau secara umum, dipersangkakan sebagai konflik Islam dengan Kristen yang diwakili oleh Amerika dan sekutu-sekutunya di Eropa. Benarkah purbasangka tersebut?

Agama memang banyak dilibatkan dalam perebutan kekuasaan di situ. Tapi masalahnya sebenarnya, bagaimana orang Palestina bisa memenuhi harapannya sebagai bangsa yang berdaulat di tanahnya sendiri. Ini sudah menjadi masalah yang sangat lama. Sebenarnya yang terjadi adalah perlakuan yang tidak adil terhadap rakyat Palestina

Gerakan Intifada yang mereka lakukan banyak juga disokong warga Palestina yang beragama Kristen. Di Betlehem, hampir 30 persen penduduknya adalah Palestina Kristen atau Katolik. Jadi ini, pertama-tama bukan masalah agama. Hanya saja, agama dilibatkan untuk menambah eskalasi. Secara kebetulan, sekarang ini yang memegang kekuasaan di Israel adalah seorang Perdana Menteri yang bisa dikatakan termasuk dari partai yang fundamentalis.

Harus disadari, bahwa Israel tidak identik dengan Kristen. Pada sisi lain, Palestina juga tidak identik dengan Islam. Sebab, banyak sekali orang Palestina yang Kristen.

Hanan Asrawi, jurubicara Palestina yang kondang itu juga beragama Kristen. George Habbash juga Kristen. Bahkan isteri Yaser Arafat, bernama Suha, juga beragama Kristen. Serangan Israel kepada bangsa Palestina, harus kita kecam sebagai suatu tindakan yang amat tidak adil. Dan ketidakadilan ini sudah terjadi bertahun-tahun.

semua gereja-gereja Protestan, yang tergabung dalam Dewan Gereja-gereja Se-dunia, tak terhitung menyampaikan kecaman. Dewan Gereja menyerukan supaya orang Israel menyadari agar tidak mengandalkan kekuatan untuk menghantam suatu bangsa yang sedang memperjuangkan harga diri dan kemerdekaannya.

Oleh karena itu,kita hindari salah paham di sini. Ada sayup-sayup suara yang mengatakan Israel identik dengan Kristen dan Palestina secara sempit diidentikkan dengan Islam. Sehingga kalau panas di sana, seolah-olah di sini juga harus panas. Dan ini adalah suatu sikap yang tidak proporsional.

Dalam arti luas,masalah di atas sebenarnya masalah politik.bahwa ada suatu bangsa, yaitu Palestina, yang ingin tampil sebagai bangsa yang bermartabat. Mereka adalah bangsa yang ingin hidup sederjat dengan bangsa-bangsa lain, termasuk ingin hidup berdampingan dengan orang-orang Israel.

Sebenarnya wajar saja kalau umat Islam bereaksi. Tanpa bermaksud menahan keinginan umat Islam untuk menyampaikan solidaritas terhadap saudara seagamanya di Palestina. hal yang ditekankan adalah perlunya sikap proporsional dalam melihat persoalan bahwa Israel sebagai negara Yahudi tidak identik dengan Kristen. Memang benar, bahwa mayoritas orang Palestina beragama Islam. Tetapi juga harus diperhatikan, walaupun Kristen minoritas, tapi mereka menjadi pembantu-pembantu terdekat dan orang kepercayaan Yasser Arafat. Sikap Yasser Arafat itu sendiri pada kawan-kawan Kristennya, luar biasa baiknya.

kita memang harus mempertegas sikap atas kebrutalan Israel. Sebab bagaimanapun, tindakan-tindakan yang dilakukan Israel sebenarnya sudah melampaui batas. & negara-negara OKI harus bersikap lebih tegas dalam menyikapi Israel. Justru ini menjadi celah untuk bersatu dalam menentukan sikap antara OKI dengan negara-negara lain. Kita lihat Eropa misalnya, sekarang justru amat kritis terhadap Israel dan juga terhadap Amerika. Kemarin, Vatikan sudah mengeluarkan pernyataan yang sangat mengecam invasi Israel.

Yang paling penting, negara-negara Arab harus mampu bersatu, bukan hanya dalam masalah Palestina, tapi dalam banyak hal. Kalau tidak, mereka gampang sekali diintervensi Amerika. pesimistis bisa terjadi karena banyak sekali negara-negara Arab yang sekarang sangat bergantung pada Amerika.

sAlam iSlam yg beRantakan!!

April 8th, 2007 by opanx


samlekom…..!
smlekom…!
lekom..~!
kumslam…!
wlekom salam
…..
apaan tuh…

jd brantakan bos

piuff…

dibrantakin aja sekalian

smlekom blekatu
smeleketekom
wlekom slam .. son
lok bar - lok bar

why not?

jadinya bukan salam iSlam lagi
Tp jadi ‘Salam Semlekete’

don’t do this anymore!

jk g ingin mempermainkan agamamu lg

…..
sentil Lg…
…..
7 = 1
…..

AGAMA bisa bikin hot

April 5th, 2007 by opanx

Menimbang sejenak sebelum memutuskan berpanjang-panjang dalam sebuah perdebatan opini

Benturan itu terjadi karena berangkat dari:
-kacamata yang berbeda
-tingkat fokus yang berbeda
-tingkat analisa yang berbeda

dan secara bijak keputusan berlanjut/tidaknya adalah menyesuaikan pada siapa yang kita hadapi.

Dengan berbagai pertimbangan yang bisa dimaklumi,bisa berakhir dengan :
-kemenangan
-kekalahan
-tak ada akhir
-(poin terakhir & unik) senyuman

Kadangkala IA menunjukkan sesuatu yang tersirat dan bisa membuat kita tersenyum, sebagaimana IA tersenyum atas anak-anakNya

Agama yang kurang toleran (1)

April 5th, 2007 by opanx

Message:Agama yang Kurang Toleran (renungan 14 Februari)
Feb 14th, 2007 by sora9n

Apa pentingnya sebuah tanggal?

Banyak orang mengatakan bahwa suatu tanggal mengandung kenangan tertentu dalam sebuah tahun. Mungkin itu juga sebabnya kita sering mengucapkan “selamat ulang tahun” pada orang-orang yang lahir pada tanggal “anu” sekian tahun yang lalu. Meskipun begitu, bukan ini yang hendak gw bahas dalam kesempatan kali ini.

Hari ini tanggal 14 Februari. Tapi, apa pentingnya?

Bukan berarti nggak ada yang penting kok. Misalnya, hari ini sekian ratus tahun lalu seorang padri dihukum penggal; sekian tahun lalu Barcelona bermain melawan Real Madrid di Camp Nou; atau Junius 7 hancur berkeping-keping dalam anime Gundam SEED. Banyak hal yang nggak penting; tapi toh banyak juga yang cukup penting.

Misalnya di Jepang sana, banyak orang yang mendadak belajar masak coklat di rumah. Atau di Indonesia sini majalah-majalah dan TV jadi seolah penuh dengan warna merah jambu. Yaah, sebetulnya sih banyak orang seolah-olah terkena “penyakit cinta” pada tanggal yang satu ini.

Banyak yang berbahagia; tapi ada juga yang marah-marah. “Itu bukan tradisi kita!”; “Kenapa kita mengekor budaya mereka?”; “Itu tidak islami!” dan lain sebagainya yang biasanya diakhiri dengan tanda seru dan sikap sinis. Oh, iya deh. Ada juga yang bilang “haram hukumnya” merayakan hari yang satu ini.

..tapi,sebegitu pentingnyakah 14 Februari?

Ada yang bilang ini hari merayakan kasih sayang. Ada juga yang menyatakan bahwa hari ini haram untuk diperingati.
Yang mengharamkan biasanya kembali pada definisi berikut ini:
1. Itu budaya maksiat;
2. Itu hari raya kafir yang tidak boleh kita rayakan;
3. Itu budaya kebarat-baratan;
4. Itu budaya yang tidak ISLAMI
***
Keempat pernyataan di atas sebetulnya tidak selalu akurat. Apakah hanya memberikan coklat pada seseorang tergolong dosa? Gw rasa nggak. Kalau dilanjutkan dengan perzinaan (atau bahkan sekadar mendekatinya), maka sudah jelas itu dosa. Tapi kalau tidak?

Apakah 14 Februari itu hari raya kafir (dalam hal ini,Kristen)? Bukan, karena tanggal tersebut hanyalah pemartiran dari seseorang yang sulit dijelaskan asal-usulnya. Coba tanya ke orang-orang yang agamanya
dituduhkan memiliki “hari raya” Valentine; apakah mereka mengadakan misa atau kebaktian pada tanggal ini? Dan lagi, kepausan sendiri (sebenarnya) telah resmi meniadakan hari raya peringatan untuk Valentine, resmi sejak tahun 1969. Hal ini sendiri dilakukan karena sulitnya membuktikan validitas keberadaan beliau.

Mempersamakan St.Valentine dengan budaya kasih sayang ibarat mencari hubungan antara Santa Klaus/Sinterklas pembawa hadiah dengan peristiwa kelahiran Yesus Kristus;ibaratnya, “Jaka Sembung makan semangka”

Apakah itu budaya yang kebarat-baratan? Iya, memang. Pertanyaannya:apakah esensinya buruk?Mewujudkan kasih sayang dengan coklat sekali setahun pada orang yang dicintai itu buruk?Gw
kok ragu-ragu ya. Nyatanya kita sendiri mengambil banyak hal bagus dari budaya dan teknologi barat: internet, handphone, metode sains, demokrasi, serta hak asasi manusia. Hal yang aneh jika kita sekarang menghina suatu budaya hanya karena berasal dari “barat”.

Apakah itu budaya yang tidak Islami? Coba jelaskan, seperti apa budaya Islami. Yang sedikit-sedikit mengharamkan karena bid’ah? Yang menyebut semua Yahudi laknatullah, sementara ada diantara mereka sendiri
yang jelas-jelas menentang zionisme? Yang bisa ribut karena satu gereja baru berdiri, sementara lima buah mesjid
mengumandangkan adzan subuh keras-keras di sekitar kediaman nonmuslim? BUKAN!!

Budaya Islami adalah budaya yang toleran, yang mengedepankan akal dan bukannya emosi - sesuai dengan perintah Q.S. Al-Alaq ayat 1. <lanjut..di sora9n.wordpress.com/2007/02/14/agama-yang-kurang-toleran-renungan-14-februari/

Agama yang Kurang Toleran (2)

April 5th, 2007 by opanx

….Budaya Islami adalah budaya yang memandang persamaan derajat, sebagaimana Khalifah Umar RA bisa kalah dalam pengadilan melawan seorang Yahudi miskin. Islam mengajarkan untuk menghargai tetangga sejauh 40 rumah ke kiri-kanan-depan-belakang, dan bukannya mengganggu tidur tetangganya yang nonmuslim dengan volume adzan disetel maksimum. Sultan Al-Kamil, penerus Sultan Saladin dalam Perang Salib, bahkan pernah meminta muazin mengecilkan suara adzan ketika Raja Frederick sedang berkunjung ke
negaranya. Semua itu menunjukkan seperti apa Islam yang “seharusnya”, yang bisa menjadi keberkahan bagi semua orang - bahkan bagi yang tidak memeluknya sekalipun.
Tapi, sekarang? Tak usahlah kita bicarakan masalah 14 Februari ini dulu. Mulai dari hal yang kecil: haramkah mengucapkan “Selamat Natal”? Katanya, “Ya”. Mengapa? Karena dikhawatirkan “dapat merusak akidah”. Ada lagi alasan lain, yaitu “dengan mengucapkan ’selamat’, maka itu berarti kita mengakui hari raya mereka”.

Sekarang, coba pikir dengan tenang. Apakah ucapan “Selamat Natal” bisa merusak akidah? Apakah itu berarti kita, sebagai muslim, turut mengakui ketuhanan Yesus Kristus?
Nyatanya tidak. Kenapa? Karena, jika betul begitu, orang-orang yang bekerja di bidang kartu-ucapan dan karangan bunga harusnya jadi bangsa yang imannya paling payah. Lha, coba saja lihat berapa kartu ucapan dan rangkaian bunga (serta parcel) yang mereka buat demi menyatakan “Selamat Natal”, “Selamat
Lebaran”, atau malah “Gong Xi Fa Cai”, yang (menurut para fundamentalis itu) sangat-tidak-islami - karena
menampilkan naga dalam wujud barongsai.

***

Hari ini, genap dua minggu setelah bulan Februari 2007 dimulai. Apa istimewanya sebuah tanggal 14 Februari?
Gw jawab dengan jujur, menurut opini gw sendiri: tidak ada. Hari ini bukan hari raya satu umat beragama pun; pun hari ini bukanlah hari bermaksiat bagi kita di Indonesia ini. Bukan pula hari kasih sayang, karena kasih sayang itu (idealnya) diwujudkan dan dirayakan setiap hari.

Sejujurnya, adakah yang penting dengan tanggal? Sebuah ulang tahun yang terjadi, hanya ditandai tepat ketika matahari menyelesaikan satu putaran revolusi. Toh, yang benar-benar penting adalah opini dari mereka yang mengartikannya.

Apakah ini hari kasih sayang? Hmm, gw malah merasa bahwa 9 dari 10 orang Indonesia akan menjawab bahwa “kasih sayang itu harusnya dirayakan kapan saja, nggak perlu nunggu 14 Februari”. Apa ini hari maksiat? Tidak tuh, mengingat Indonesia nggak punya tradisi La Fete du Baiser yang dirayakan di Prancis sana. Memang ini kebudayaan Barat - tetapi, gw berani taruhan bahwa banyak orang memandang rendah tradisi
14 Februari ini karena asal-usul “barat”-nya. Gw membayangkan, seandainya budaya Valentine berasal
dari Jepang - yang notabene lebih “timur” - dan diberi nama “minna ga aisuru no hi” (=’hari mencintai sesama’). Apakah reaksi masyarakat sebegitu negatifnya juga?

Entahlah.

Meskipun begitu, sebuah pertanyaan penting yang belum terjawab sampai akhir tulisan ini - apakah budaya ini Islami?

Gw nggak tahu persis apakah ada esensi dari perayaan ini yang bisa dikategorikan “Islami”. Meskipun
begitu, dalam skenario paling ekstrim: jika semangat untuk berbagi kasih sayang (tidak hanya pacar, tapi juga orangtua, sahabat, dan tetangga) dianggap sebagai sesuatu yang “tidak Islami”, maka agama ini sedang menuju kesulitan besar.